RSS

Penjaga Sekolah itu Kakekku

Lagi-lagi siang yang panas membara, entah kenapa cuaca bulan ini sangat kacau. Kadang panas, kadang hujan. Kalau saja bukan karena eja aku takkan mau berpanas-panasan diluar seperti ini . dan aku lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamar.

Benci rasanya merasakan siang yang panas seperti ini. Perlahan lahan aku menyusuri koridor-koridor tempat kakekku bekerja sekaligus tinggal. Kupanggil kakekku dengan sebutan mbah kakung. Mbah kakung adalah penjaga sekolah ini. Entah sejak kapan beliau bekerja disini, di SMPN 1 Cibinong, tepat bersebelahan dengan SMAN 1 Cibinong. Tak percaya rasanya, akhirnya aku memakan janjiku sendiri. Janji untuk tidak mau lagi menjenguk mbah kakung yang sudah membuat diriku kecewa. sampai saat ini, aku masih belum tahu betul apa yang menbuat mbah kakung mengambil keputusan itu, keputusan yang membuat hubungan kami merenggang.

Dulu, setiap minggu aku selalu kesini bersama ayah sekedar untuk menjenguk mbah kakung. Kami selalu khawatir kalau kalau mbah kakung terlalu membebankan diri dengan berbagai tugas yang harus dikerjakannya sebagai penjaga sekolah.

Kami selalu membujuk mbah kakung supaya mau tinggal bersama kami dan meninggalkan pekerjaan beliau sebagai penjaga sekolah. Tapi mbah kakung menolak . bagi mbah kakung umur bukanlah penghalang untuk melakukan apapun selama beliau masih sanggup. Dan mbah kakung tidak pernah mau sampai merepotkan orang lain.

Tetapi semua itu dulu, dulu sebelum mbah kakung diam-diam menikah siri dengan seorang janda diusiannya ke-70. Dan hal itu membuatku tidak lagi simpati kepadanya. Aku kecewa, sedih, menyesal atas apa yang dilakukan beliau. Bisa-bisanya beliau menikah lagi, sementara mbah putri didesa semakin sakit-sakitan setelah mendengar hal ini. Dan memang sejak mbah kakung menikahi janda itu, jangankan mengirimkan uang, pulang kedesa saja beliau tak pernah. Entah apa yang membuat mbah kakung tiba-tiba menikahi janda itu.
Sejak saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengunjungi mbah kakung. Bagiku, mbah kakung yang sekarang, bukanlah mbah kakung yang ku kenal. Aku sangat malu. Malu pada sikap dan tindakan yang sudah beliau lakukan.

Sebenarnya bukan keinginanku menjenguk mbah kakung. Terpaksa aku harus membantu eja menyelesaikan masalahnya. Sebenarnya ini masalahku juga. Kalau saja kami tidak kena tilang, mungkin aku tidak akan pernah datang menjenguk mbah kakung. Mbah kakung sangatlah bisa membantuku dan aku yakin beliau mau membantuku karena beliau kenal dengan orang polres.

Sebenarnya aku belum siap untuk menemui mbah kakung lagi setelah hampir 5 tahun aku marah kepada beliau. Dan aku pun tak tahu apa yang akan ku katakana ketika pertama kali jumpa dengannya.

Setibanya di tempat, aku melihat tidak ada banyak perubahan dengan rumahnya mbah kakung. Masih sama seperti 5 tahun silam. Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu, tapi yang aku dapati, sepi, tidak kudapatkan sepatah katapun sebagai jawaban. Dalam hati ku bertanya-tanya. Tak lama kemudian seorang lakilaki tua berusia 75 tahun berdiri didepan hadapanku dengan tersenyum. Aku ragu untuk mengucapkan salam ataupun menjulurkan tanganku dan menciumnya. Beliau menanyakan kabarku dan bertanya kenapa tidak pernah datang, aku pun menjawab kalau aku sibuk dengan urusan sekolahku. Terpaksa aku berbohong agar beliau tidak sakit hati. Kemudian aku menceritakan niat aku tuk datang kepadannya dan beliau mau membantuku. Tidak lama aku pamit pulang dengan alas an ingin belajar kelompok. Padahal aku sering disuruh menginap semalam tapi kali ini mbah kakung memperbolehkan aku untuk pulang dan sungguh menyakitkan untukku mengatakan kebohongan kepada mbah kakung, kakekku yang sangat aku sayang. Akupun langssung menelpon eja akan tetapi eja bilang kalau ibunya telah meminta pertolongan temannya untuk membantu masalah kami. Kedikit kesal aku mendengarnya. Tahu gini aku tidak perlu berpanas-panasan. Tapii sudahlah, nasi sudah menjadi bubur.

*****************************************************************************

Siang ini tidak sepanas minggu lalu, tapi masih bisa ku rasakan panas dari dalam kamarku. Siang ini eja berniat mengajakku untuk menjenguk orang yang telah membantu kasus kami seminggu yang lalu. Yang aku tahu mamanya eja itu seorang guru SMP, dan bisa jadi kenalan mamanya adalah salah satu rekan atau bisa juga seorang penjaga sekolah seperti mbah kakung.

Ketika sampai dirumah sakit, tidak lama mencari kamar bernomor 57. Tempat orang tersebut dirawat. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam kamipun masuk. Betapa kagetnya aku melihat seorang kake yang tertidur pulas dengan infuse ditangan kirinya. dan kakek itu adalah mbah kakung. Kakekku sendiri. Aku terperanjat, tapi aku berusaha mengendalikan diriku di depan eja. Dan aku langsung keluar kamar dengan alas an haus dan ingin membeli minum.

Mungkin saja di dalam, mbah kakung menceritakan siapa beliau dan apa hubungannya beliau denganku. Setelah aku kembali ke depan kamar aku tidak berani untuk masuk lagi akan tetapi eja datang dan dia telah tahu semua hal yang aku rahasiakan darinya. Dan aku kembali ke mbah kakung dengan luapan air mata karena aku tidak sanggup untuk membencinya. Masalah mbah kakung di rawat dirumah sakit, orang tua ku tidak menceritakan kepadaku karena mereka tahu akan kemarahanku kepada mbah kakung.

0 komentar:

Posting Komentar